Menyambut perayaan pehcun tanggal 5 bulan 5 imlek yang jatuh pada hari Minggu (8/6), warga Tionghoa umumnya menggelar persembahyangan dengan menyertakan penganan bacang yang terbuat dari beras ketan. Toko-toko makanan di Pertokoan Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, termasuk toko milik Shanty yang menjual bacang, mulai diserbu pembeli, Jumat (6/6).
Antony Lee
”Kok masih ada bacang, padahal pehcun sudah lama lewat,” kata Nyonya Agiok (48), menirukan pertanyaan spontan seorang pengunjung di toko miliknya di Bandengan Selatan, Jakarta Barat. Di toko Ba’cang Agiok miliknya, makanan khas yang biasanya hanya tersaji setahun sekali bisa ditemui setiap hari. Berbagai jenis bacang digantung di etalase sepanjang lebih kurang 6 meter.
Dengan antusias, ibu empat anak ini bercerita panjang lebar soal berbagai ungkapan spontan orang-orang yang baru pertama kali datang ke toko yang dibuka lima tahun lalu itu. Pengunjung rata-rata kaget karena bacang memang umumnya disajikan saat perayaan pehcun yang diperingati setiap tanggal 5 bulan 5 imlek.
Agiok mulai menjual bacang secara rutin karena berkaca dari pengalaman pribadi. Empat anaknya berkali-kali meminta bacang saat sudah tidak lagi pehcun.
”Saya mulai kepikiran, kenapa enggak dibuat setiap hari saja. Masa kalau ada orang ngidam makan bacang mesti nunggu pehcun dulu,” katanya sambil tertawa, Selasa (10/6).
Tradisi pehcun yang secara harfiah berarti pacuan perahu naga, dalam budaya China diyakini sudah berusia lebih dari 2.300 tahun. Wikipedia menyebutkan, tradisi ini diperingati untuk mengenang kematian penyair China, Qu Yuan (339 SM-277SM). Qu Yuan sebelumnya menjabat Perdana Menteri Dinasti Chu yang terusir dari istana karena fitnah dan intrik politik.
Kekhawatirannya atas kondisi negara yang semakin bobrok membuat hatinya terpuruk dan memilih bunuh diri melompat ke sungai pada tanggal 5 bulan 5 imlek. Penduduk sekitar mencari jenazahnya sambil melemparkan nasi dan makanan ke sungai agar ikan tidak mengganggu jenazahnya.
Hal ini yang kemudian berkembang menjadi tradisi pehcun dan penyajian bacang. Bahkan, di beberapa tempat pehcun juga sering diramaikan dengan lomba perahu naga.
Dalam tradisi Tionghoa, bacang biasanya juga disajikan bersamaan dengan kweecang untuk persembahyangan menyambut pehcun. Meski hampir sama, kweecang berukuran lebih kecil dan bagian dalamnya tidak diisi daging seperti bacang. Kweecang digunakan untuk sembahyang leluhur sehari sebelum pehcun, sedangkan bacang untuk sembahyang orang tua tepat disajikan saat pehcun.
Bacang bahkan juga memiliki beberapa variasi, seperti bacang peranakan dan konghu. Bacang peranakan berbentuk limas, dengan bahan baku utama dari beras. Isinya juga lebih sederhana, hanya satu jenis daging. Bacang konghu berukuran jauh lebih panjang, dengan isi lebih dari lima jenis dan menggunakan bahan baku beras ketan.
Menurut Kho Kie Hwat (65), pengurus tempat ibadah Tri Dharma Toa Se Bio di Kemenangan III, Grogol, bacang yang sesuai pakem dibungkus dengan menggunakan daun bambu dan diikat dengan tali dari pelepah pisang atau di beberapa daerah diikat memakai tali rumput asin (tik hio). Namun, dengan berbagai alasan, bentuk dan macam bacang terus berubah mengikuti perkembangan zaman.
Inovasi produk
Ada perubahan sarana pembuatan, ada pula perubahan isi yang mengikuti selera masyarakat. Bila merujuk pada terjemahan harfiah bacang, awalnya makanan ini berisi daging babi.
”Sekarang ini kita harus menyesuaikan isi dengan keinginan masyarakat. Kan ada yang tidak mengonsumsi daging babi. Maka ada bacang yang berisi daging ayam juga,” ujar Agiok.
Menurut Agiok, saat ini penting untuk menyesuaikan jenis bacang yang disajikan dengan selera masyarakat. Agiok mengaku fleksibel membuat isi bacang sesuai pesanan. Untuk pelanggan berselera pedas, ia menambahkan cabai, sedangkan untuk vegetarian, ia siap menyediakan bacang berisi sayur- sayuran. Hal yang tidak akan ditemui pada bacang yang sesuai pakem.
Berkat menyesuaikan keinginan pasar, Agiok mendapat hasil lumayan besar. Saat ini ia sudah memiliki delapan toko ataupun gerai penjual bacang. Penjualan harian di setiap lokasi mencapai 800 bacang. Nilainya, menurut Agiok, cukup lumayan untuk tambah modal usaha, bayar gaji 20 karyawan, biaya hidup, dan biaya sekolah anak-anaknya.
Bahkan, selama seminggu sebelum pehcun, secara keseluruhan Agiok menjual sekitar Rp 30.000 bacang dan Rp 20.000 kweecang. Setiap bacang dijual Rp 7.000 hingga Rp 40.000, tergantung jenis dan isinya, sedangkan kweecang Rp 3.000.
Pragmatisme tradisi terhadap permintaan pasar yang cukup mencolok terlihat juga dari tali yang digunakan untuk mengikat bacang. Hampir semua pembuat bacang di pertokoan Glodok dan Pancoran sudah tidak lagi mengikat bacang dengan tali dari pelepah pisang.
Menjelang pehcun yang tahun ini jatuh pada 8 Juni, hampir semua bacang yang digantung di berbagai toko makanan di daerah Pecinan Jakarta ini sudah memakai tali plastik.
Liauw Irawan (46) dan Embot (44), pembuat bacang di Kemenangan VII, Glodok, mengakui penggunaan tali plastik juga dilakukan karena lebih praktis, harganya lebih murah, dan lebih mudah dicari. Tali plastik juga memudahkan mengenali isi bacang yang sudah semakin bervariasi.
”Kalau dulu bacang memang hanya satu jenis isi. Sekarang kalau tetap pakai tali pelepah pisang susah mengetahui isi. Kalau plastik warna-warni tinggal sesuaikan warna dengan isinya,” ujar Embot.
Menurut Embot, saat ini sudah semakin sedikit warga Tionghoa yang bisa membuat sendiri bacang. Saat Embot masih kecil, ia masih ingat, menjelang pehcun biasanya keluarga Tionghoa lebih banyak membuat bacang ketimbang membeli yang sudah siap santap.
Edi (50), pemilik toko makanan di Gloria Glodok yang juga ikut menjual bacang saat pehcun, mengatakan, beberapa tahun terakhir banyak warga Tionghoa yang membeli bacang saat hari pehcun. Mereka hanya menyantapnya bersama keluarga dan tidak lagi menggunakan bacang sebagai bagian dari ritual persembahyangan.
Bahkan, tidak banyak lagi generasi muda Tionghoa yang tahu asal-usul bacang. Mereka hanya tahu setiap pehcun akan menyantap makanan ini. Bacang juga sangat fleksibel mengikuti permintaan masyarakat.
”Yang tidak bisa berubah bungkus bacang. Kalau sudah tidak memakai daun bambu, bacang sudah tidak sesuai tradisi lagi,” tutur Agiok.

